Need Add Your Sitemap?

Wednesday, 7 November 2007

Akibat Perselingkuhan

Minggu, 13 Februari 2000. Alangkah senangnya Tantri karena besok, 14 Februari, usianya genap 21 tahun. Untuk itu ia sudah menyiapkan pesta, tentu dengan mengundang teman-temannya. Agar hatinya yakin dia tidak lupa mengirim undangan, dia menelepon Raisa, sahabatnya.

Di Garut malam-malam Raisa kaget mendapat telepon itu. "Tenang saja. Aku pasti datang Senin malam. Tapi mungkin agak malam. Ibu menyuruhku mampir ke rumah Tante Kori. Lalu aku menjemput Lisa di rumahnya. Kuusahakan kami sudah tiba sebelum acara mulai."

Liontin hadiah ulang tahun

Esoknya, Senin pagi, dengan wajah segar dan ceria Raisa sudah di dalam bus menuju Bandung. Raisa tidak keberatan meski harus jauh-jauh pergi ke Bogor, demi sahabatnya.

Tantri sedang mencoba gaun pesta ketika telepon di kamarnya berdering. Suara di seberang sana sudah tidak asing lagi di telinganya. Dari Lisa di Bandung yang mengabarkan urung datang karena penyakit ibunya kambuh.

"Oh iya, tadi Raisa ke rumah menjemput aku. Jadi, dia pasti datang. Anggap saja ia mewakili aku, OK?" Setelah mengucapkan selamat, dan - kembali - minta maaf, Lisa menutup telepon.

Tantri menarik napas dalam-dalam. Untung Raisa bisa datang. Ulang tahun tanpa sahabat dekat tentu tidak meriah.

Dering telepon membuat Danu Sasmita terperanjat. Entah mengapa sejak mengantar Raisa, putri tunggalnya, ke terminal hatinya tidak tenang. Apalagi setelah menerima telepon dari Kori, adik iparnya, yang menanyakan Raisa, yang belum juga muncul di rumahnya di Bandung. Selain itu, kata Kori, teman Raisa yang berulang tahun telah menelepon, menanyakan apakah Raisa sudah berangkat dari Bandung.

Meski sempat waswas, Danu menenangkan diri dengan menduga, Raisa yang langsung ke Bogor, belum tiba di Bogor. Selasa pagi Danu menelepon kembali Kori untuk menanyakan kabar Raisa. Jawaban Kori justru menambah khawatir. Ia makin gelisah ketika Tantri bertanya, kenapa Raisa tidak kunjung datang.

Dengan berbekal nomor telepon dari Tantri, Danu menelepon hampir semua teman Raisa. Namun, semua mengaku tidak tahu.

Sudah dua hari Raisa menghilang. Bukan hanya Danu, pasangan suami-istri Anwar dan Kori pun melapor ke polisi. Namun, belum ada titik terang yang menunjukkan keberadaan Raisa.

Empat hari kemudian, berbagai media massa memberitakan ditemukannya sesosok mayat wanita muda di daerah Ciranjang, Cianjur. Mayat tanpa identitas itu ditemukan seorang pencari kayu bakar, di sebuah lubang di hutan pinus.

Dari ciri-ciri yang diberitakan Danu curiga mayat tersebut adalah Raisa. Dengan diantar petugas kepolisian Garut dan Anwar, adiknya, Danu pergi ke Ciranjang, tempat mayat ditemukan. Rasa penasaran mendorongnya untuk melihat mayat yang mulai membusuk.

Danu limbung, untung Anwar sigap menangkapnya.

"Bapak mengenalinya?" tanya seorang polisi. Danu mengangguk dengan air mata yang tak lagi mampu ditahan. Ia yakin, itu jasad Raisa. Tandanya, seutas kalung dengan liontin berinisial RIS yang melingkar di leher mayat itu. Danu ingat, liontin itu hadiah pemberiannya di ulang tahun ke-17 Raisa. RIS artinya Raisa Indrawati Sasmita.

Pacarnya tak melayat

Usai diautopsi, jasad Raisa dikuburkan di pemakaman keluarga di Bandung. Dari pemakaman, Inspektur Satu Polisi (Iptu) Agung ditemani Sersan Satu Tatang menemui Danu dan istri di rumah Anwar. Danu tidak merasa ada yang aneh saat mengantar Raisa ke terminal, untuk merayakan ulang tahun Tantri di Bogor. Lagipula bukan satu-dua kali Raisa pergi ke luar kota.

Selama dua tahun terakhir Raisa tinggal bersama paman dan tantenya, karena harus menyelesaikan kuliah di sebuah universitas di Bandung. Saat liburan saja Raisa pulang, ke rumah orang tuanya di Garut.

Menurut Danu, kecil kemungkinan Raisa punya musuh. Raisa pandai bergaul hingga temannya banyak. Kalau ke Garut, Raisa tidak pernah mengeluhkan masalah apa pun. Dia selalu pulang dengan wajah ceria. Cerita Danu diperkuat oleh keterangan Kori dan Anwar. Selama tinggal bersama mereka, Raisa selalu berperilaku baik.

Teman-teman Raisa pun sependapat. Malah, diketahui pula kalau Raisa menjalin hubungan dengan teman kuliahnya, yakni Dito. Iptu Agung pun melihat, banyak teman Raisa ada di rumah Anwar membantu keluarga Danu mengurusi proses pemakaman Raisa, kecuali Dito.

Usai menemui Danu, Iptu Agung menghampiri Tantri di kamar Raisa. Gadis manis itu duduk termenung dengan mata sembap, saat Iptu Agung duduk di hadapannya.

Dengan suara berat sambil sesekali menghapus air mata, Tantri bercerita tentang Raisa yang periang, pandai bergaul, namun juga sangat iseng. Keisengan itu terkadang membuat orang lain jengkel. Dito pun pernah jadi "korban".

"Bagaimana ceritanya?" tanya Iptu Agung penasaran.

"Saat itu saya, Lisa, Mimi, Sari menginap di sini. Niatnya, membuat makalah. Tapi akhirnya kami ngobrol ke sana-kemari," tutur Tantri, "tiba-tiba Raisa mengajak bertaruh."

Kalau Raisa menang, selama seminggu Tantri dan teman-teman harus mentraktir makan. Selain itu, ulang tahun Tantri yang bertepatan dengan hari Valentin harus dirayakan di vila di Bogor. "Tapi, kalau Raisa kalah, cincin kesayangannya hadiah ulang tahun dari Dito, akan diserahkan. Kami setuju."

Bentuk taruhannya sederhana. Raisa akan menelepon Dito lalu memintanya datang. Padahal hari sudah malam, sedang hujan lebat pula. Tantri dan teman-teman yakin Raisa akan kalah. Ternyata tidak, Raisa menang.

"Mengapa Dito mau datang?"

Sambil menatap foto Raisa di meja belajar, Tanri berkata, "Raisa mengatakan, ia hamil dan minta Dito bertanggung jawab. Bila Dito tidak datang, Raisa akan memberi tahu semua orang. Kalau sebaliknya, ia akan tutup mulut dan menyelesaikan masalah itu. Dito pun panik dan cepat-cepat datang."

Iptu Agung menatap Tantri dalam-dalam, "Benarkah Raisa hamil?"

"Enggaklah Pak, itu 'kan akal-akalannya saja agar menang. Keisengannya memang selalu membuat jantung deg-degan. Yang kenal Raisa, tahu itu. Selain Dito, kami dan Om Nugroho pun pernah dibuat kalang kabut."

"Om Nugroho? Siapa dia?"

"Teman Om Anwar."

Menurut Tantri lagi, sejak itu Raisa dan Dito jarang akur. Apalagi Dito mulai melirik cewek lain yang juga sekampus. Itu terjadi dua minggu sebelum Raisa pulang ke Garut. Orang tua Raisa sama sekali tidak tahu kalau Raisa mempunyai kekasih bernama Dito.

Setelah dirasa cukup, Iptu Agung bermaksud pamit. Saat ia hendak beranjak pergi, seorang pria berpostur tegap masuk, menyalami orang-orang di sana, lalu langsung memeluk Anwar.

Anwar memperkenalkan laki-laki itu pada Danu Sasmita dan Iptu Agung. Nugroho mengangguk hormat ke arah Danu dan Agung. "Saya turut berduka cita, Pak. Sungguh tidak disangka. Rasanya baru kemarin saya melihatnya," tambahnya.

"Kami juga tidak menduga. Semoga pembunuhnya cepat tertangkap," sahut Anwar sambil mengepalkan tangan gemas.

"Anda kenal Raisa?" pertanyaan mendadak Iptu Agung mengejutkan Nugroho.

"Tentu, Pak. Saya sering bertemu dengannya kalau ke sini, dia anak baik," jawab Nugroho gugup.

Agung mengangguk sambil mengajak Sertu Tatang untuk pamit.

Cincinnya di pacar baru

Pukul 07.00, Iptu Agung diberi tahu anak buahnya tentang tamu yang sudah sedari 15 menit menunggunya.

"Saya Lisa, sahabat Raisa. Saya tidak bisa tinggal diam, Pak. Saya takut kecurigaan saya benar," ujar gadis berambut panjang itu memperkenalkan diri.

Lisa datang atas permintaan Tantri. Sebelumnya Lisa telah bercerita pada Tantri tentang semua kecurigaannya.

"Kemarin di rumah sakit saya bertemu Sasti. Kebetulan neneknya seruang dengan Ibu saya. Kami ngobrol, sampai akhirnya dia memperlihatkan cincin di jarinya. Saya kaget, itu cincin Raisa!"

"Sasti? Siapa dia?" Iptu Agung penasaran.

"Pacar baru Dito. Kebetulan dia teman saya di SMP. Katanya, cincin itu pemberian Dito, sebagai hadiah Valentin sekaligus hari jadian mereka. Aneh 'kan, Pak? Soalnya, terakhir kali bertemu Raisa, saya lihat cincin itu masih di jarinya."

"Kapan itu?"

"Tanggal 14, Pak. Saya dan Raisa berencana berangkat bareng ke vila Tantri di Puncak. Waktu itu Raisa diantar Dito menjemput saya di rumah saya di Dago."

"Mengapa baru sekarang Anda melaporkan?"

"Baru kemarin saya tahu Raisa meninggal, ya dari Sasti itu. Awalnya saya tidak percaya. Tapi setiba di rumah saya, Tantri sudah menunggu dan mengabarkan berita duka itu. Saya jadi curiga pada Dito."

Menurut dia, karena Lisa batal ke Bogor, Dito akan mengantar Raisa sampai Bogor.

"Pukul berapa mereka berangkat dari rumah Anda?"

Lisa mengernyitkan dahi, mengingat-ingat. "Sekitar pukul 14.30, Pak. Kami berangkat bersama. Mereka juga mengantar saya dan Ibu ke rumah sakit."

"Anda yakin cincin yang dipakai Sasti itu milik Raisa?"

"Saya hapal benar. Modelnya unik dan lucu, berbentuk hati. Tanya saja Tantri, ia pasti sependapat dengan saya."

"Apa Anda yakin Raisa langsung pergi ke Bogor? Tidak mampir dulu ke tempat lain?"

"Yakin, Pak. Setelah mengantar saya, Dito yang tampaknya sedang kesal cepat-cepat mengajak Raisa ke Bogor. Alasannya, agar tidak kemalaman di jalan," tutur Lisa.

Sakaw saat diinterogasi

Berbekal keterangan Lisa, Iptu Agung memanggil Dito dan Sasti.

Pengakuan Sasti yang tinggi semampai itu sama seperti yang diucapkannya pada Lisa. Ia mengaku, baru kenal Dito dua minggu silam. Perkenalan itu menjadi makin serius. Buktinya adalah cincin itu.

"Apa Anda kenal Raisa?"

"Raisa? Tidak. Tapi, saya tahu orangnya. Dito juga pernah cerita, Raisa itu mantan pacarnya. Kasihan, ia meninggal dengan cara mengenaskan."

"Tahukah Anda, cincin itu milik Raisa?"

Sasti kaget. Matanya menatap tajam Iptu Agung. "Kata siapa, Pak?!"

"Ada yang bilang, itu cincin Raisa. Bahkan, masih dipakai pada 14 Februari. Coba ceritakan lagi, kapan tepatnya Anda menerima cincin ini?" desak Agung.

Dengan kesal Sasti mengatakan, Dito memberikan cincin itu pada 14 Februari malam, pukul 21.30. Saat itu Dito dan teman-temannya merayakan hari Valentin di sebuah diskotek. "Kalau ada yang mengatakan cincin ini milik Raisa, pasti karena dia iri pada saya dan Dito."

Saat Dito dimintai keterangan, pemuda ganteng bertubuh ceking itu menjawab dengan berbelit-belit. Sikap yang membuat Iptu Agung kesal itu juga mengesankannya terlibat dalam pembunuhan Raisa.

Apalagi saat Agung bertanya, ke mana Dito dan Raisa pergi setelah mengantar Lisa ke rumah sakit. Dito hanya mengaku, ke rumah teman tanpa menyebutkan nama dan alamat sang teman. Untuk pemeriksaan lebih lanjut Dito terpaksa mendekam dalam tahanan kepolisian.

Di hari kedua pemeriksaan Dito mengaku, tidak mengantar Raisa ke terminal Leuwi Panjang melainkan ke depan kompleks perumahan tempat tinggal Raisa. Selanjutnya, dia tidak tahu ke mana Raisa pergi.

"Bukankah Anda mengatakan pada Lisa, akan mengantar Raisa ke Bogor?"

"Awalnya begitu, Pak. Tapi di jalan Raisa malah minta diantar ke rumah tantenya. Belum sampai di rumahnya, ia pun minta berhenti. Katanya, mau naik becak saja."

"Saat itu Anda sedang kesal dengan Raisa. Mengapa?"

Dito tidak segera menjawab. Kepalanya menunduk, butir-butir keringat membasahi dahinya.

"Tolong jawab!" ulang Iptu Agung.

Dito menarik napas berat, "Saya kesal karena Raisa minta dijemput di terminal, minta diantar ke mana-mana. Tapi tidak sekalipun minta maaf, malah minta putus."

"Minta maaf? Untuk soal apa?" tatap Agung.

"Eh … eh … suatu malam Raisa menelepon saya, dan mengaku hamil. Ia meminta saya datang. Ternyata, semua hanya tipuan. Saya jadi objek taruhan antara dia dan teman-temannya. Sejak itu hubungan kami renggang. Apalagi teman-temannya selalu mempengaruhi agar menjauhi saya," jawab Dito pelan.

"Mengapa?"

"Entahlah, Pak."

"Mengapa Anda panik saat diberi tahu bahwa Raisa hamil?"

"Saya amat mencintainya. Selama berpacaran, saya berusaha tidak melakukan hal yang melewati batas. Tentu saja saya kaget waktu Raisa mengaku hamil. Saya marah. Saya pikir Raisa pasti melakukannya dengan orang lain."

Lalu Iptu Agung bertanya tentang cincin yang diberikan pada Sasti. Dito mengatakan, cincin itu dikembalikan Raisa sebagai tanda putus. Dengan kesal dan marah ia langsung pergi. Dia tidak peduli ke mana Raisa pergi. Ia sengaja memberikan pada Sasti untuk memanas-manasi Raisa, agar menyesal telah mengembalikan cincin itu.

"Saya menyesal membiarkannya sendiri. Kalau saya tahu bakal begini .... " suara Dito tertahan, dia mengusap matanya yang berkaca-kaca.

"Kata Anda, setelah mengantar Raisa, Anda mengunjungi teman. Siapa namanya dan di mana alamatnya?"

Heran, Dito tak menjawab, tubuhnya menggigil, wajahnya memucat. Dari hidungnya keluar cairan bening. Dengan tangan gemetar Dito menghapusnya.

"Anda sakit?" tanya Agung.

Meski Dito menggeleng, Agung tanpa membuang waktu meminta anak buah membawa Dito ke rumah sakit.

Dari hasil pemeriksaan diketahui, Dito positif memakai obat-obatan terlarang. Rupanya saat diinterograsi Dito sakaw.

Sedari awal Agung sudah curiga dengan keadaan Dito. Apalagi melihat gaya hidup Dito yang bebas dan penuh hura-hura. Kini selain tersangka utama pembunuh Raisa, Dito juga dicurigai sebagai pengedar narkoba.

Dua orang yang dicurigai

Inspektur Satu Agung mempelajari kembali hasil autopsi Raisa. Di antaranya disebutkan Raisa meninggal akibat pukulan di belakang kepala. Pukulan yang diduga dilakukan secara bertubi-tubi itu mengakibatkan bagian belakang kepalanya retak. Kemudian tubuh korban dibenamkan di sebuah lubang, yang lalu ditutupi dedaunan.

Diduga pelakunya adalah orang yang kenal dengan korban. Tidak ada tanda-tanda perkosaan ataupun perampokan, kecuali cincin dan semua kartu identitas hilang.

Tempat penemuan mayat jauh dari keramaian dan tidak dilewati kendaraan umum. Jangankan kendaraan besar seperti bus, angkot pun tidak akan sampai ke hutan pinus itu. Artinya, Raisa atau si pelaku tidak menggunakan kendaraan umum, mungkin kendaraan pribadi.

Dari semua informasi itu, makin jelas kemungkinan Dito sebagai tersangka utama. Saat mengantar Raisa, Dito menggunakan sepeda motor. Ia pun tidak punya alibi antara waktu mengantar Raisa dan menjemput Sasti pada pukul 20.00.

Agung tinggal menunggu pengakuan Dito, yang kini dirawat di rumah sakit. Sekeluar Dito dari perawatan, serangkaian pemeriksaan menunggunya.

Belum usai merapikan kertas laporan, datang Sertu Tatang yang melaporkan temuannya.

"Apa anehnya dia ada di kafe?" tanya Agung dengan dahi berkernyit.

"Yang janggal adalah orang yang bersamanya. Bapak pasti tidak menduga."

Agung memajukan kursi, tanda penasaran.

Ternyata Tatang melihat tante Raisa berduaan dengan pria yang bukan suaminya, yakni Nugroho.

"Nugroho?" Agung mengingat-ingat.

"Benar Pak, kita pernah bertemu dengannya di rumah Anwar saat pemakaman Raisa. Dia datang saat kita akan pulang."

"Lalu?"

"Menurut pelayan, mereka memang pelanggan kafe itu. Sepertinya mereka menjalin hubungan."

Agung mengangguk-angguk, rasanya penemuan ini perlu ditindaklanjuti dan diselidiki. Apalagi ia ingat cerita Tantri tentang Nugroho yang pernah dibuat kalang kabut oleh Raisa.

Sersan Tatang mulai menjalankan tugas untuk mencari tahu sejauh mana hubungan keduanya. Ia menyamar sebagai pelanggan kafe. Dengan bantuan pramusaji bernama Bino, Sersan Tatang tahu hari dan jam berapa dua insan itu biasa bertemu.

Tidak dipungkiri lagi, Kori dan Nugroho memang menjalin hubungan asmara. Mereka layaknya remaja yang mabuk cinta, berkencan dan bermesraan, tak peduli sekitarnya.

Hasil investigasi itu dilaporkannya kepada Iptu Agung. Untuk membuktikan kecurigaannya yang tiba-tiba muncul di benaknya, Agung meluncur ke tempat kos Tantri.

"Wah kedatangan Bapak benar-benar kejutan, ada yang bisa kami bantu, Pak?" sergah Tantri dan Lisa, yang tak disangka ada di sana.

"Benar. Saya ingin bertanya soal Nugroho. Anda pernah bilang, Raisa sempat mengerjai Nugroho, benarkah?" Agung menatap Tantri.

"Sebenarnya saya kurang tahu, Pak. Karena saya tidak begitu mengenal Om Nugroho. Raisa yang pertama kali mengenalkannya. Raisa mengatakan, ingin ngerjain Om Nugroho, karena tahu rahasia Om Nugroho. Bila berhasil, si Om tidak akan sering-sering datang ke rumahnya, khususnya saat Om Anwar tidak ada di rumah."

Namun seingat Lisa, Raisa memang pernah menggarap Om Nugroho. Beberapa waktu lalu Raisa mengajak Tantri, Lisa, Didit, Ami, dan Lim Yie makan-makan. Setelah memesan makanan, Raisa menelepon Om Nugroho, yang datang tak lama kemudian. Setelah makanan ludes, Raisa mengajak pergi teman-temannya, membiarkan Om Nugroho yang membayar.

"Waktu kami tanya, kenapa Om Nugroho yang membayar. Jawaban Raisa cuma, 'rahasianya ada padaku'."

Tiba-tiba Tantri ingat sesuatu. "Oh ya, sebelum pulang ke Garut, Raisa pernah menelepon ke telepon genggam Om Nugroho. Ia mengatakan ingin bertemu untuk membicarakan hal penting dan rahasia. Kalau tidak datang, rahasianya akan dia bocorkan. Saya sempat bertanya, tapi Raisa menolak memberi tahu. Ia berjanji akan bercerita saat ke Bogor nanti."

Tantri menduga, "Jangan-jangan Tante Kori berselingkuh dengan Om Nugroho. Saya pernah melihat mereka berduaan di taman belakang rumah. Saya tidak yakin Dito yang membunuh Raisa. Meski saya tidak suka pada Dito, tapi saya tahu Dito sangat sayang pada Raisa. Mungkinkah Om Nugroho membunuh Raisa? Bukankah ia punya motif? Itu kalau dugaan saya benar, Raisa sudah tahu itu. Agar aman, satu-satunya jalan adalah melenyapkan Raisa."

Namun Lisa membantah, "Belum tentu Tante Kori ada main dengan Om Nugroho. Saya lebih curiga pada Dito. Selama ini kita tidak tahu kalau Dito memakai obat terlarang. Tampaknya Raisa tahu bahwa Dito pengedar ganja. Ia akan melaporkannya ke polisi. Daripada mendekam di penjara, Dito memilih menghabisi Raisa. Saya yakin Raisa diajak mampir ke Ciranjang, lalu dihabisi di hutan pinus itu. Iya kan, Pak?"

Mendengar argumen keduanya Iptu Agung hanya tersenyum, "Ya kita akan mencari siapa pelakunya."

Dalam hati Agung memuji kejelian kedu gadis itu. Memang tak tertutup kemungkinan Nugroho terlibat pembunuhan itu, namun Agung juga melihat Dito punya peluang menjadi pelaku.

Sersan Tatang membawa laporan yang lebih lengkap. Di perusahaan yang dipimpin Anwar, Nugroho adalah staf yang segera dipromosikan menjadi wakil direktur. Sedangkan salah satu pemegang saham perusahaan garmen itu adalah Danu Sasmita.

Menurut tetangganya yang ditanyai Sersan Tatang, Nugroho dikenal sebagai suami penurut dan takut istri. Ia sering ketakutan kalau istrinya sedang marah-marah.

Dari Beno, pelayan kafe, Tatang mendapat informasi penting, Senin sore, 14 Februari, Nugroho tampak bersama seorang gadis muda berusia 20-an. "Saya ingat, hari Jumat malam dan Senin sore, dia membawa gadis cantik itu ke sini,

"Saya pikir dia dapat gacoan baru. Padahal minggu malamnya, saat acara Valentin yang tiap tahun diadakan di sini, ia dinobatkan sebagai pasangan serasi dengan wanita yang sering bersamanya. Hebat dia, bisa dapat cewek muda dan pintar bagi-bagi waktu," kata Beno sambil tertawa penuh arti.

Kunci berikutnya adalah istri Nugroho. Ketika Iptu Agung mendatangi rumahnya, Nugroho sedang ke luar kota. Ines, istri Nugroho, sempat heran polisi itu menanyakan jam berapa suaminya pulang pada tanggal 14 Februari.

Kata Ines, "Dia memang pulang malam karena ada rapat penting di kantor. Apalagi sebentar lagi ia akan naik pangkat menjadi wakil direktur, otomatis kesibukannya bertambah." Ines yakin suaminya yang penurut, tidak berani berbuat macam-macam. Agung iba dan prihatin melihat Ines. Dia pikir dengan menguasai dan mengendalikan Nugroho, suaminya itu akan selalu setia.

Agung mulai menghubungkan kematian Raisa, semua laporan Sersan Tatang, cerita Tantri dan Lisa, serta pengakuan Ines.

Dua tuntutan

Inspektur Satu Agung segera mengatur siasat. Bersama beberapa anak buahnya ia menjemput Nugroho di bandara. Tentu saja ini mengagetkan Nugroho.

Semula Nugroho keberatan dan memprotes saat dibawa ke kantor polisi, meski Agung memperlihatkan surat perintah. Namun, dengan sejumlah bukti-bukti dan saksi yang menyatakan melihatnya bersama Raisa pada hari Senin sore, akhirnya Nugroho tunduk.

Di kantor polisi, tanpa mengalami kesulitan berarti Agung berhasil mengorek pengakuan Nugroho.

"Sore itu saya melihat Raisa akan naik becak untuk pulang ke rumah Kori," akunya. Lalu ia mengajak Raisa berjalan-jalan, dan mampir ke kafe‚ tempat ia biasa mangkal bersama Kori.

"Selama ini Raisa tahu tentang perselingkuhan kami. Ia mengajukan tuntutan bila ingin rahasia mereka terjamin. Tapi ia selalu mengundur-undur waktu untuk mengatakan tuntutannya," tutur Nugroho dengan suara berat sambil tiap sebentar menghapus keringatnya.

Hari Senin itu Raisa akan mengatakannya. Pertama, ia minta diantar ke tempat ulang tahun temannya di Bogor. Nugroho menyanggupi.

Namun sesampai di daerah Ciranjang, Raisa mengubah niat. Ia minta turun, karena akan meneruskan perjalanan dengan bus. Sebelum pergi Raisa mengajukan syarat kedua, minta dibelikan mobil. Jika tidak terpenuhi, ia mengancam akan membeberkan rahasia perselingkuhan itu ke paman dan ayahnya. Celaka, itu artinya Nugroho bukan saja bisa kehilangan kedudukan, tapi juga pekerjaan. Raisa yakin kalau sampai tahu kejadian itu, pamannya akan memecat dia.

Tapi dari mana Nugroho mendapatkan uang untuk membeli mobil? Apa pula nanti yang harus dikatakan pada istrinya? Nugroho bingung.

Sebelum Raisa naik bus jurusan Bogor, Nugroho membujuknya kembali ke mobil untuk membicarakan tuntutan itu.

Setelah Raisa naik, Nugroho membelokkan mobil ke daerah Ciranjang. Ketika Raisa protes dan memberontak, Nugroho mendorongnya hingga membentur pintu mobil. Raisa pun pingsan. Nugroho terus mengemudi hingga masuk ke pelosok Ciranjang sampai tiba di hutan pinus.

"Saya tidak bermaksud membunuhnya, saat dia siuman saya memintanya untuk mengubah tuntutannya. Kalau tidak ia akan saya tinggal di hutan pinus itu. Tapi Raisa malah berteriak-teriak dan lari. Saya kalap. Saya kejar dia, lalu saya pukul kepalanya dengan sepotong kayu. Saya baru sadar ketika tahu ia tewas. Saya sungguh menyesal ...."

Lalu, Nugroho menyembunyikan tubuh Raisa dengan membenamkannya ke sebuah lubang. Lubang itu ditutupi dengan dedaunan dan ranting-ranting. Nugroho pun mengambil semua kartu identitas Raisa, lalu membuangnya di jembatan Citarum. Jejak ban dan bekas darah tidak ditemukan karena tersapu hujan lebat yang turun tiap hari.

Dengan pengakuan Nugroho, Dito terbebas dari tuntutan pembunuhan. Namun dia tetap diproses hukum karena terbukti menyalahgunakan obat-obat terlarang. Apalagi kesatuan reserse narkotika berhasil meringkus sekelompok pemuda yang berpesta shabu. Sebagian dari mereka mengenal Dito karena biasa membeli benda haram itu dari Dito.

Setelah kelompok pestanya tertangkap, Dito mengaku, usai mengantar Raisa, ia ke rumah Alex. Bersama beberapa temannya, ia merayakan Valentin dengan pesta putaw. Dia sengaja tidak mengatakannya pada Iptu Agung karena takut aktivitas kelompoknya ketahuan. Ia pun merasa bersalah telah meninggalkan Raisa sendiri sehingga harus menemui nasib tragis. (Fiksi/R. Yuliantina)

Satu Nyawa Dibayar Tiga

William Kent sudah 73 tahun, sehingga oleh lingkungannya sering dipanggil "Babe" kalau menurut istilah Jakarta. Meski tua, Babe tetap doyan daun muda.Herannya, Babe yang pengangguran itu tidak pernah kekurangan uang. Ia sering mentraktir kenalan-kenalannya makan atau minum di pub.

Memang, Babe memiliki rumah bertingkat dua, yang kamar-kamarnya ia sewakan ke beberapa pemondok. Ia sendiri menempati sebuah kamar di lantai dasar. Rumahnya tidak bagus, malah boleh dibilang agak kumuh. Letaknya di pinggiran Melbourne, kawasan Carlton yang kumuh pula.

Para penyewa tahu, uang sewa dari mereka setiap minggu tidak memungkinkan Babe hidup leluasa. Mereka pun tahu kalau Babe mempunyai sumber penghasilan lain. Ia bandar taruhan gelap, yang beroperasi di luar gelanggang pacuan kuda. Tepatnya di jalan-jalan dekat University Hotel.

Tamunya 3 orang

Salah seorang penyewanya adalah Jim Conole. Bersama istrinya ia tinggal di kamar depan tingkat dua. Selasa sore, 8 November, Jim melihat Babe bersama wanita berambut coklat kemerahan yang menggairahkan, minum-minum di University Hotel. Ia menduga, sebentar lagi si wanita pasti dibawa pulang.

Timbul niat iseng pada Jim. Kira-kira pukul 18.30 ia turun mengetuk kamar Babe, lalu menjengukkan kepala ke dalam. Benar, si rambut coklat kemerahan sedang duduk di pangkuan Babe. Namun mereka tidak cuma berduaan. Dua pria yang tadi berada di pub juga tampak di situ.

Sambil melayangkan pandangannya ke wanita yang menggairahkan itu, Jim melangkah masuk pura-pura meminjam koran. Setelah itu ia meninggalkan ruangan untuk memenuhi janji minum-minum dengan teman-temannya di Hawthorn, pinggiran kota Melbourne.

Satu setengah jam kemudian, May Howard yang tinggal di sebelah kamar Babe merasa terganggu oleh bunyi berisik. Ia mendengar perabot rumah tangga digeser-geser. Yang mencemaskannya adalah bunyi gedebak-gedebuk dan suara erangan.

Ia tahu Babe mendapat tamu. Tadi, kira-kira pukul 18.00 ia melihat Babe pulang membawa seorang wanita berambut coklat kemerahan dan dua pria. Lalu ia melihat wanita itu dengan salah seorang pria keluar ke lorong depan. Sebelumnya mereka mengunci pintu kamar Babe dan mengantungi kuncinya. Dari sana mereka pergi ke halaman belakang. Ia mendengar mereka berbicara di sana sebentar sebelum akhirnya kembali masuk ke kamar Babe.

Ada kejadian lain yang tidak biasa sore itu. Selama ini hampir setiap sore Ny. McWilliam yang tinggal di rumah seberang bertandang ke rumah Babe untuk minum-minum. Ia selalu diterima dengan baik. Namun, kali itu May Howard mendengar Ny. McWilliam bersitegang dengan tamu-tamu Babe. Katanya, suaminya tahu ia pergi ke mana dan ia memang biasa datang ke situ. Beberapa saat kemudian ia tampak kembali ke rumahnya. Rupanya ia ditolak masuk ke kamar Babe.

Menjelang pukul 21.00 May merasa kamar Babe sunyi. Walau keributan sebelumnya sempat merisaukannya, kesunyian sekarang malah membuatnya penasaran. Penyewa yang mengkhawatirkan keselamatan induk semangnya ini memberanikan diri mengetuk pintu kamar Babe. Tidak ada jawaban. Ia memutar tombol pintu, ternyata terkunci. Aneh. Tidak biasanya Babe mengunci pintu kalau sedang di rumah. Mungkin ia pergi dengan tamu-tamunya. Atau jangan-jangan ….

May tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum yakin akan keadaan Babe. Karena penasaran ia mendekati pintu kamar Babe dan menempelkan telinganya ke lubang kunci. Samar-samar kedengaran suara orang berbicara.

Sebelumnya May sudah menyatakan rasa waswasnya kepada penyewa kamar lain, yakni William Symons, veteran perang yang tungkainya tinggal sebelah. Jadi sekarang ia mendatangi Symons yang sudah tua itu. Ia menyatakan, ingin mengintip ke kamar Babe lewat jendela.

May Howard segera melaksanakan niatnya. Agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang yang ada di dalam, ia mengambil jalan memutar. Ia keluar dulu dari halaman belakang, lalu memutari blok sampai tiba dekat rumah Ny. McWilliam di seberang jalan. Ketika sedang berada di sana, ia melihat salah seorang dari dua pria tamu Babe ada di lorong menuju pintu depan yang terbuka. Tidak lama kemudian muncul pria kedua dan perempuan yang berambut coklat kemerahan. Pria yang keluar bersama si wanita sempat memberi salam, "Selamat malam" kepada Babe, sebelum menutup pintu kamar.

Ketiga orang itu sempat bercakap-cakap sebentar di trotoar, sebelum akhirnya menghilang di sudut jalan. May kembali mendatangi Symons untuk melaporkan kepergian ketiga orang itu. Symons bertanya apakah Babe kedengaran menjawab salam selamat malam mereka. May tidak mendengarnya.

Lantas Symons dan May menghampiri pintu induk semang mereka. Symons mengetuk. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lebih keras lagi, kali ini dengan sebelah tongkat penyangganya. Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya mereka menghubungi polisi.

Tewas disiksa

Yang pertama datang adalah Detektif Polisi George Crouch ditemani dua polisi berseragam. Mereka mendobrak pintu kamar Babe. Ruangan itu acak-acakan. Tubuh Babe terbujur kaku di lantai. Mengetahui korban sudah tidak bernapas lagi, mereka menelepon markas, memanggil para detektif yang bertugas mengusut pembunuhan.

Detektif Senior Cyril Currer dan Detektif Ron Kellett segera datang, disusul sejumlah petugas lain. Mereka meneliti ruangan yang berantakan, padahal beberapa jam sebelumnya William "Babe" Kent masih bercanda dan memangku si rambut coklat kemerahan di tempat itu.

Dalam posisi tergolek miring, sebagian tubuh Babe tertutup seprai yang penuh cipratan darah. Wajahnya babak belur sampai hampir tidak bisa dikenali lagi. Karpet di ruangan itu tercabik-cabik dan pada beberapa tempat dikelupas dari lantai sehingga papan lantai terlihat. Kasurnya bekas ditusuk dan dirobek dengan pisau yang menyebabkan isinya berhamburan keluar. Lemari pakaian terguling miring, isinya berserakan. Rupanya si pelaku berusaha mencari sesuatu.

Dokter kepolisian Dr. Keith Bowden menyibakkan seprai. Tampak kemeja Babe robek. Tubuhnya mandi darah. Ada sejumlah cedera di tubuhnya. Menurut Bowden, korban tampaknya disiksa sebelum tewas.

Pergelangan tangan Babe diikat ke belakang dengan robekan kain seprai. Kedua ibu jarinya juga diikat dengan tali dan sakunya ditarik ke luar. Polisi tahu, Babe adalah bandar gelap pacuan kuda, tetapi pria berumur itu tidak pernah tertangkap basah.

Tetangga-tetangganya menceritakan kehadiran tiga orang asing di kamar Babe sebelum ia ditemukan tewas. Polisi menarik kesimpulan, perempuan berambut coklat kemerahan itu berperan sebagai umpan untuk merayu Babe, lalu mengajaknya minum-minum bersama dua temannya ke kamar korban. Tentu saja dengan iming-iming keintiman seksual.

Diperkirakan, para pelaku tahu Babe seorang bandar gelap dan menduga korban memiliki banyak uang yang disimpan di kamarnya. Ketika gagal menemukannya, mereka menyiksa orang tua itu agar mau menunjukkan uangnya, sebelum akhirnya membunuhnya untuk menghilangkan jejak.

Pakaian bernoda darah

Jim Conole, tetangga yang sore itu pura-pura meminjam koran kepada Babe, baru pulang ke rumah pukul 23.00. Kepada polisi ia menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya saat masuk ke kamar korban. Katanya, salah seorang pria memanggil perempuan yang dipangku Babe, "Jean". Penampilan wanita itu memang "yahud", kecuali hidungnya. Ada semacam borok di hidungnya. Rupanya gatal, sebab perempuan itu terus menggaruknya. Ia melihat keempat orang itu minum-minum sebotol anggur di kamar Babe.

Dari Jim Conole, May Howard, dan beberapa tetangga, polisi mendapat gambaran perihal ketiga tamu korban. Sebagai langkah awal penyelidikan, sebuah tim polisi dikirim ke University Hotel untuk menanyai orang-orang yang melihat Babe dengan ketiga orang itu. Pelayan bar masih ingat betul pada perempuan berambut coklat kemerahan itu. Katanya, hidung wanita itu luka dan sekeliling lukanya memerah. Wanita itu merayu Babe. Ia juga mendengar, perempuan itu berkata kepada Babe bahwa ia dan kedua temannya datang dari Sydney.

Lekas-lekas bandara dan stasiun-stasiun kereta api diinstruksikan untuk melapor ke polisi kalau ketiga tersangka itu muncul. Namun, mereka tidak ditemukan di mana-mana. Saat itu di Melbourne sedang berlangsung pekan pacuan kuda yang memperebutkan Piala Melbourne. Mungkin hal itu yang membawa ketiga buronan itu ke kota ini. Para detektif yakin mereka masih di sekitar Melbourne sambil berharap menang bertaruh dengan uang hasil jarahan mereka.

Akhirnya polisi memeriksa beberapa hotel. Resepsionis yang bertugas malam hari di Great Southern Hotel, dekat stasiun kereta api Spencer Street, ingat bahwa trio seperti yang digambarkan polisi, tiba ke hotel ini kemarin. Yang mengaku bernama Andrews menginap di kamar untuk satu orang. Sedangkan Lee dan nyonya mengambil kamar untuk dua orang. Namun saat ini mereka sedang ke luar hotel.

Dengan membawa kunci, resepsionis itu menemani Detektif Senior William Mooney dan tiga detektif lain ke kamar Andrews dan kamar pasutri Lee. Mereka menemukan mantel dan rok bernoda darah di lemari kamar yang dihuni pasutri Lee. Juga sehelai kemeja yang pergelangan lengannya bernoda darah. Di kamar Andrews, sehelai kemeja yang terciprat darah teronggok di kursi.

Mereka kembali ke lobi hotel, sementara Mooney menelepon markas besar, meminta Currer dan Kellett datang ke hotel menunggu para buronan. Saat itu mereka sudah bekerja cukup lama sehingga lelah dan mengantuk. Beberapa di antara mereka sempat tertidur di lobi.

Menjelang pukul 04.20, suara tertawa mengejutkan mereka. Dua pria dan seorang wanita berambut coklat kemerahan masuk ke hotel dalam keadaan mabuk. Mereka menggoda penjaga pintu. Seperti gambaran dari para saksi, perempuan itu punya luka di hidung dengan warna merah di sekelilingnya.

Keempat detektif, diikuti oleh Currer dan Kellett, segera merangsek mengelilingi tiga orang itu. Dengan hormat ketiganya diminta ikut ke markas polisi, untuk "membantu polisi dalam pengusutan kejahatan". Namun sebelumnya tas milik si rambut coklat digeledah. Isinya antara lain dua tiket pesawat atas nama Clayton dan Ny. Clayton.

Meski sempat menolak, akhirnya mereka menurut juga tanpa perlawanan. Mereka diangkut dengan kendaraan yang berbeda-beda. Saat itu sudah tujuh jam lewat sejak korban ditemukan tewas.

Di markas polisi, mereka ditempatkan di ruang yang berbeda pula. Mooney dan seorang temannya menanyai "Mr. Lee" yang mengaku bernama Robert Clayton. Katanya, si rambut coklat adalah pacarnya, Jean Lee. Polisi curiga, bisa jadi perempuan itu pelacur dan Clayton yang bertubuh kecil dan berpenampilan licik itu germonya.

Katanya, mereka bertemu Norman Andrews pada awal minggu. Sejak itu ketiganya ke mana-mana selalu bersama. Suatu hari Andrews menggadaikan setelan jas karena mereka bokek. Kemudian mereka terlibat percakapan dengan seorang pria lanjut usia yang dipanggil "Babe" di tempat minum University Hotel. Menurut Clayton, Jean dan Andrews menemani Babe pulang.

"Saya sih tidak pernah ke sana," kata Clayton. Katanya ia menunggu di luar hotel. "Tidak mungkin," sanggah Mooney. Ada orang-orang yang melihatnya berjalan bersama dua temannya dan Babe ke rumah korban di Dorrit Street.

Tapi, Clayton tetap menyangkal.

Uangnya cukup banyak

Lalu percakapan difokuskan pada kondisi keuangan trio itu. Andrews cuma menerima Rp 60.000,00 saat menggadaikan setelan jasnya. Sehabis minum-minum uangnya tersisa Rp 36.000,00. Clayton mempunyai uang sekitar Rp 30 juta. Kata Clayton, uang itu tabungannya, hasil bekerja serabutan di Sydney.

Keterangan mereka tidak cocok dengan kenyataan. Clayton terlihat berada di kamar Babe dan meninggalkan rumah korban kira-kira pukul 21.00. Pria lanjut usia itu didapati tewas dengan tanda-tanda bekas penganiayaan di kamarnya. Clayton yang mengaku sama sekali tidak punya uang tiba-tiba memiliki sejumlah uang. Interogasi pun diteruskan.

Clayton tetap membantah terlibatan dalam kasus itu. Kemudian, ia mengakui bantahannya tidak meyakinkan. "Aku tidak ikut-ikutan dengan yang mereka lakukan," teriaknya marah. Ia terus menyatakan, Jean dan Andrews-lah yang ingin agar ia ikut menghabisi Babe, tetapi ia menolak. Katanya, Jean pergi ke halaman belakang untuk memberi tahu dia bahwa Babe punya banyak uang, tetapi karena celana Babe sulit diperosotkan, tak mudah bagi Jean untuk mendapat uang itu dengan 'jalan baik-baik'. Berarti korban harus dibunuh.

Menurut Clayton, setelah kembali sebentar ke kamar Babe, ia pulang ke Great Southern Hotel, meninggalkan Jean dan Andrews untuk melaksanakan niat mereka berdua. Ia baru bertemu lagi dengan mereka beberapa saat kemudian. Ketika ditanyakan dari mana mereka mendapat uang untuk membeli tiket pesawat ke Adelaide, Clayton menjawab bahwa Andrews dan Jean mengambil uang Babe.

Mooney mengingatkan, ada saksi mata yang melihat Clayton meninggalkan rumah Babe bersama dua temannya. Sementara itu lecet-lecet pada kepalannya menunjukkan, ia telah mempergunakan tinjunya. Ketika dikatakan, ia dituduh melakukan pembunuhan atas Babe, Clayton mengulangi bantahannya dalam sebuah pernyataan tertulis.

Selanjutnya Mooney pindah ke tempat Jean Lee, yang sebelumnya sudah diinterogasi oleh Currer dan Kellett. Sebelum ia masuk, Currer memberi tahu, Jean orangnya sangat tenang dan tidak mau mengaku.

Mooney memberi tahu Jean pengakuan Clayton dan tentang percakapan dengannya di halaman belakang rumah Babe. Jean menjawab, ia tidak akan bicara apa-apa. Lalu Mooney berkata, Clayton sudah membuat pernyataan. Ketika pernyataan dibacakan, Jean berkata, itu cuma karangan para detektif. Ia minta dipertemukan dengan Clayton. Ketika dibawa masuk, Clayton menangis sementara Jean memandangnya dengan geram tetapi tanpa bicara sekecap pun.

"Huh, mereka bilang perempuan lebih lemah!" katanya saat Clayton dibawa pergi. "Aku masih mencintai Bobby, makhluk tidak berpendirian itu. Kalau itu maunya, ya sudahlah."

Akhirnya Jean membenarkan keterangan Clayton, kecuali bahwa Clayton tidak meninggalkan rumah Babe lebih dulu. Andrews juga ikut, meninggalkan Jean sendirian. Menurut Jean, saat ia berduaan dengan Babe, "Saya pukul kepalanya dengan botol dan sepotong kayu," katanya. Para detektif memang mencatat adanya patahan kaki meja di sebelah mayat. "Jari saya tergores pecahan botol", kata Jean sambil menunjukkan tangannya. "Ia pun jatuh dari kursi ke lantai."

Ketika ditanya apakah ia mengikat tangan korban, Jean menjawab, "Ya, saya mengikat jempolnya dengan tali. Saya tahu ia sudah tewas waktu kami meninggalkannya."

"Kami?" tanya Currer.

"Cuma saya sendiri," Jean tergagap meralat.

Meski mau mengaku, ia menolak membuat pernyataan tertulis. Ia membantah semua ucapannya dan mogok bicara. Jean Lee pun dituduh membunuh William Kent.

Sementara itu Andrews menyangkal pergi ke rumah Babe, "Mungkin mereka berdua yang melakukan. Saya tidak ikut." Ketika diberi tahu perihal pengakuan Clayton, ia tidak percaya dan ingin melihat pernyataan itu. Ketika sudah melihatnya, ia marah. "Iya, deh. Saya ada di sana," katanya. "Tapi saya tidak membunuh. Saya bahkan tidak memukulnya."

Menurut pengakuan Andrews, Clayton dan Jean menganiaya dan merampok korban, sedangkan dia cuma berdiri mengawasi. Currer memandang buku-buku jari Andrews. Buku-buku jari itu tidak menunjukkan kalau pemiliknya cuma berdiri mengawasi. Ketika diberi tahu ia dituduh membunuh, Andrews protes, "Saya tidak menyentuhnya."

Salah pergaulan

Selama ketiga tersangka menunggu diadili, polisi mengusut latar belakang mereka. Di bangku sekolah, Jean Lee termasuk anak yang cerdas, agak tomboi, dan cenderung pemberontak. Sejak remaja, kecantikannya sudah menarik perhatian lawan jenis. Ia terus berpindah-pindah kerja lantaran para majikannya tidak puas dengan hasil kerjanya. Ia pernah bekerja di pabrik topi, menjadi pramusaji, karyawan administrasi di bengkel mobil, dan buruh pabrik. Tampaknya ia lebih menikmati pergaulan dengan lawan jenis daripada bekerja.

Umur 18 tahun ia menikah dengan pacarnya yang pengangguran dan tidak lama kemudian melahirkan anak perempuan. Kemudian Jean meminta cerai. Anaknya dirawat sang ibu, sedangkan Jean bekerja di Brisbane sebagai pramusaji. Ia bergaul dengan para tentara AS yang waktu itu banyak ditempatkan di sana. Lalu ia berpacaran dengan seorang penjahat yang mendominasi hidupnya selama empat tahun. Orang inilah yang membawa Jean terjun ke lembah hitam.

Akhirnya Jean bisa melepaskan diri, dan pergi ke Sydney menjadi pelayan bar. Suatu hari ia bertemu Robert Clayton, penjahat kelas teri yang biasa membongkar rumah dan sering keluar-masuk penjara. Walau penampilan Clayton rapuh dan mencerminkan kelicikan, Jean amat mencintainya. Segera saja Jean dimanfaatkan oleh pasangannya, untuk menjalankan tindak pemerasan.

Biasanya Jean memilih pria yang tampaknya terhormat, lalu memancingnya ke mobil curiannya. Di sana, ia merayu sang calon korban dengan daya tarik kewanitaannya. Tiba-tiba saja Clayton muncul, berpura-pura sebagai suami yang kalap. Ia mengancam akan minta cerai dan menjadikan sang korban sebagai pihak penyebab perceraiannya. Si pria yang takut istrinya tahu dan namanya tercemar biasanya lantas minta "damai" dan menyerahkan semua uang yang dibawanya. Kalau ia menolak, Clayton akan menghajar dan merampoknya.

Tidak jarang Jean ikut dipukuli. Luka di hidungnya juga akibat pukulan tangan Clayton yang bercincin. Waktu itu Clayton marah karena Jean memilih korban yang terlalu kuat bagi Clayton.

Selama ini, Clayton menghabiskan uang penghasilan mereka untuk berjudi, padahal mana ada penjudi yang beruntung. Kini tega-teganya dia mengkhianati Jean.

Sementara Norman Andrews jenis orang yang amat berbeda dari Clayton. Meski tak seberapa tinggi, ia penjahat tangguh yang tidak takut apa pun. Sempat menjadi tentara dan terlibat dalam berbagai pertempuran, akhirnya Andrews dikeluarkan dari dinas militer karena sering libur tanpa izin. Clayton pertama kali bertemu dengannya di penjara. Ketika bertemu lagi di gelanggang pacuan kuda Melbourne, mereka menggalang kembali persahabatan yang sempat terputus.

Mereka kalah taruhan habis-habisan dan berniat bekerja sama. Rencananya ia akan meminjamkan tenaga pada tim Jean dan Clayton. Mereka dua kali berhasil merampok sebelum memilih Babe sebagai korban. Korban sebelumnya adalah dokter muda dan seorang koki restoran.

Menyangkal keterangan pada polisi

Siksaan yang diderita Babe diungkapkan oleh Dr. Bowden dalam sidang pra-peradilan. Katanya, dua pisau lipat bernoda darah di dalam kamar Babe diperkirakan adalah alat untuk menyiksa wajah Babe. Dinding perut dan paha kiri Babe memar hebat. Selain itu, ada luka-luka lain di tubuh Babe. Babe pun dicekik dengan tangan. Ketika setiap luka disebutkan, ketiga tertuduh saling senggol dan tertawa.

Tanggal 20 Maret tahun berikutnya mereka dihadapkan ke pengadilan kriminal Melbourne. Clayton dan Jean duduk berpegangan tangan. Clayton membantah keterangannya di depan polisi. Katanya mereka bertiga meninggalkan rumah Babe pukul 19.00. Kata Jean, Kent baik-baik saja saat ditinggalkan. Katanya, ia sedang 'histeris' ketika membuat pengakuan di depan polisi. Sementara itu Andrews terus membantah keterlibatannya dalam pembunuhan maupun perampokan.

Dalam kesimpulannya Hakim Gaffan Duffy berkata pada para juri, "Kalau Anda menemukan tiga orang bersama-sama di sebuah ruangan di mana kemudian terjadi penganiayaan besar dan menemukan bekas-bekas kekerasan pada tangan mereka dan darah pada pakaian mereka, maka hal itu tentu bukan kebetulan, tetapi bukti kuat bahwa mereka mengambil bagian dalam penganiayaan."

Tanggal 25 Maret, juri memerlukan waktu kurang dari tiga jam untuk memutuskan bahwa ketiga terdakwa bersalah membunuh William Kent.

"Saya tidak membunuh! Saya tidak membunuh!" teriak Jean Lee sambil tersedu-sedu dalam pelukan pacarnya.

"Dasar orang-orang goblok!" teriak Clayton sambil menuding para juri. Andrews ditanyai apakah ia ingin menyatakan sesuatu. "Tidak. Pada kesempatan ini tidak," jawabnya.

Ketika mereka bertiga dijatuhi hukuman mati, Clayton meludah ke arah juri dan berteriak, "Kenapa kalian tidak menggantung si Currer pembohong itu dan penipu lainnya?"

Mereka naik banding dengan dalih pengakuan dibuat di bawah tekanan saat mereka mabuk dan setengah histeris.

Tanggal 23 Juni, hakim-hakim Pengadilan Banding dengan suara dua lawan satu menyatakan, polisi memperoleh pengakuan dengan cara tidak benar, yaitu dengan menggunakan pengakuan tertuduh yang satu untuk memperoleh pengakuan dari tertuduh yang lain. Penghukuman dikesampingkan dan diperintahkan agar mereka diadili kembali.

Jean Lee amat senang. "Apa kubilang!" serunya sambil memeluk dan menciumi Clayton dengan penuh gairah. Kegembiraannya terlalu dini. Keputusan Pengadilan Banding ditolak oleh Mahkamah Agung. Hukuman mati dikukuhkan.

Jean Lee yang baru berumur 31 tahun jadi sering mengamuk di selnya. Ia kerap menyerang para wanita sipir dan sering meminta minuman keras.

Tercatat dalam sejarah

Tanggal 4 Januari tahun berikutnya, Andrews menulis surat ke inspektur jenderal lembaga pemasyarakatan, menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi di kamar Babe.

Menurut versinya, ia sedang menuangkan minuman ketika Jean berkata, "Cepat, Bobby!" Ia menoleh dan melihat Babe sedang memegangi lengan Jean. Clayton lantas meninju wajah Babe.

Andrews bertanya, "Ada apa sih?" Clayton menjawab, Jean mencoba mengambil uang Babe tetapi ketahuan. Mereka memutuskan mengikat korban ke kursi, supaya mereka bisa kabur dengan aman.

Kata Andrews, pada saat ia merobek seprai untuk pengikat, pintu diketuk. Ia membuka pintu sedikit. Ternyata perempuan teman Babe yang tinggal di rumah seberang, ingin minum-minum. Ia melarang wanita itu masuk, sebab katanya sedang ada pesta pribadi. Lalu ia mengantar wanita itu ke jalan. Ketika masuk lagi ke kamar, Babe sudah terbujur di lantai. Jean berlutut di sebelahnya sambil menangis.

"Ada apa?" tanya Andrews. Menurut Clayton, "Waktu kamu berbicara dengan wanita itu, dia (Babe) berusaha membuat kegaduhan untuk menarik perhatian. Aku harus menghentikannya. Aku mencekal lehernya dan rupanya terlalu keras."

Menurut surat Andrews, Babe ternyata sudah tewas. Clayton berulang-ulang berkata, "Aku cuma ingin menghentikan nyanyiannya. Aku tidak bermaksud mencekiknya."

Surat itu, yang rupanya merupakan usaha Andrews untuk membersihkan diri, tak mampu meyakinkan pihak berwajib. Maksudnya tidak tercapai karena cedera pada Babe menunjukkan bahwa orang lanjut usia itu mengalami penyiksaan yang cukup lama.

Akhirnya, walaupun diprotes oleh orang-orang yang anti-hukuman mati, eksekusi dijalankan juga. Nyawa Babe yang terlebih dahulu melayang akhirnya harus ditebus tiga nyawa para pembunuhnya.

Jean Lee menjadi perempuan pertama sejak 56 tahun terakhir yang digantung di Negara Bagian Victoria. Sebelumnya ia berkata kepada seorang perempuan sipir, "Saya tidak mencekiknya. Saya tidak memiliki kekuatan untuk mencekik siapa pun juga. Bobby memang bodoh, tetapi siapa suruh si tua itu mau berteriak. Kami tidak bermaksud mencekiknya."

Senin 19 Februari 1951, Jean Lee yang sudah diberi obat penenang diantar ke tiang gantungan. Ia keburu pingsan, sebelum sheriff membacakan alasan ia dihukum gantung. Jean Lee tercatat dalam sejarah Australia sebagai wanita terakhir yang menjalani hukuman gantung sebelum hukuman itu ditiadakan.

Dua jam kemudian, Robert Clayton dan Norman Andrews yang juga diberi obat penenang, tetapi tidak sebanyak untuk Jean. Mereka bisa berjalan sendiri ke tiang gantungan masing-masing.

Selama dalam sel mereka, Clayton memanggil Andrews "Charlie". Saat mereka berdiri berdampingan di atas pintu yang bisa menjeblak ke bawah panggung, Clayton berkata, "Goodbye, Charlie."

Andrews menjawab, "Goodbye, Bobby." (William Kendal/HI)

Krakatau - Lebih Hebat dari Bom Atom !!

Taken from August 1982 edition of Intisari Magazine
http://www.intisari-online.com

Tanggal 27 Agustus nanti akan genap seratus sembilan belas tahun letusan dahsyat Krakatau yang sempat menggoncangkan seluruh dunia. Pada tanggal 27 Agustus 1883, bertepatan dengan hari Minggu, dentuman pada pukul 10.02 terdengar di seluruh wilayah Nusantara, bahkan sampai ke Singapura, Australia, Filipina, dan Jepang. Bencana yang merupakan salah satu letusan terhebat di dunia itu sempat merenggut sekitar 36.500 jiwa manusia.

Kegiatan dimulai dengan letusan pada tanggal 20 Mei 1883, waktu kawah Perbuatan memuntahkan abu gunung api dan uap air sampai ketinggian 11 km ke udara. Letusan ini walaupun terdengar sampai lebih dari 350 km (sampai Palembang), tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Pada letusan tanggal 27 Agustus itu bebatuan disemburkan setinggi 55.000 m dan gelombang pasang (Tsunami) yang ditimbulkan menyapu bersih 163 desa. Abunya mencapai jarak 5.330 km sepuluh hari kemudian. Kekuatan ledakan Krakatau ini diperkirakan 26 kali lebih besar dari ledakan bom hidrogen terkuat dalam percobaan.

Dikira Meriam Apel

Seorang pengamat di rumahnya di Bogor, pada tanggal 26 Agustus pukul satu siang mendengar suara gemuruh yang tadinya dikira suara guntur di tempat jauh. Lewat pukul setengah tiga siang mulai terdengar letupan pendek, sehingga ia mulai yakin bahwa kegaduhan itu berasal dari kegiatan Krakatau, lebih-lebih sebab suara berasal dari arah barat laut-barat. Di Batavia gemuruh itu juga dapat didengar, demikian pula di Anyer. Di serang dan Bandung suara-suara itu mulai terdengar pukul tiga.

Seorang bintara Belanda yang ditempatkan di Batavia mengisahkan pengalaman pribadinya. Seperti banyak orang lainnya ia mengira bahwa dunia akan kiamat saat itu.

“Tanggal 26 Agustus itu bertepatan dengan hari Minggu. Sebagai sersan pada batalyon ke-IX di Weltevreden (Jakarta Pusat) hari itu saya diperintahkan bertugas di penjagaan utama di Lapangan Singa. Cuaca terasa sangat menekan. Langit pekat berawan mendung. Waktu hujan mulai menghambur, saya terheran-heran bahwa di samping air juga jatuh butiran-butiran es.”

“Sekitar pukul dua siang terdengar suara gemuruh dari arah barat. Tampaknya seperti ada badai hujan, tetapi diselingi dengan letupan-letupan, sehingga orangpun tahu bahwa itu bukan badai halilintar biasa.”

“Di meja redaksi koran Java Bode orang segera ingat pada gunung Krakatau yang sudah sejak beberapa bulan menunjukkan kegiatan setelah beristirahat selama dua abad. Mereka mengirim kawat kepada koresponden di Anyer, sebuah pelabuhan kecil di tepi Selat Sunda, tempat orang bisa menatap sosok Krakatau dengan jelas pada cuaca cerah. Jawabnya tiba dengan cepat: ‘Di sini begitu gelap, sampai tak bisa melihat tangan sendiri.’ Inilah berita terakhir yang dikirimkan dari Anyer…”

“Pukul lima sore gemuruh itu makin menghebat, tapi tidak terlihat kilat. Letusan susul-menyusul lebih kerap, seperti tembakan meriam berat. Dari Lapangan Raja (Merdeka, Red.) dan Lapangan Singa (Banteng) terlihat kilatan-kilatan seperti halilintar di ufuk barat, bukan dari atas ke bawah, tetapi dari bawah ke atas. Waktu hari berangsur gelap, di kaki langit sebelah barat masih terlihat pijaran cahaya.”

“Sudah menjadi kebiasaan bahwa tiap hari pukul delapan tepat di benteng (Frederik Hendrik, sekarang Mesjid Istiqlal) ditembakkan meriam sebagai isyarat upacara, disusul dengan bunyi terompet yang mewajibkan semua prajurit masuk tangsi. Para penabuh genderang dan peniup terompet batalyon itu sudah siap pada pukul delapan kurang seperempat. Mereka masih merokok santai sebelum mereka berbaris untuk memberikan isyarat itu. Tiba-tiba terdengar tembakan meriam menggelegar, jauh lebih dini daripada biasanya. Mereka segera berkumpul membentuk barisan dan setelah terompet dibunyikan, mereka berbaris sambil membunyikan genderang dan meniup terompet. Baru saja
mereka mencapai asrama ketika meriam yang sebenarnya menggelegar dari dalam benteng. Gunung Krakatau ternyata mengecoh mereka!”

Batavia Jadi Dingin

“Sementara itu ‘penembakan’ berlangsung terus. Kadang-kadang bunyinya seperti tembakan salvo beruntun, kilatan-kilatan menyambar-nyambar ke langit. Semua orang tercekam ketakutan. Tiada seorangpun percaya bahwa ada badai mengamuk jauh di sana. Hampir tidak ada orang yang berani tidur malam itu. Banyak yang berkumpul di halaman rumah mereka sambil mengarahkan pandangan mereka ke arah barat dan memperbincangkan kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan gejala alam yang aneh itu. Hanya anak negeri yang tak ragu-ragu: ‘Ada gunung pecah,’ kata mereka.”

“Menjelang tengah malam tiba perwira piket, Letnan Koehler. Ia mengatakan kepada saya bahwa seluruh kota sedang dalam keadaan panik. Penduduk asli berkumpul di masijid-masjid untuk bersembahyang. Penduduk Belanda tetap terjaga di rumah masing-masing atau pergi ke rumah bola Concordia atau Harmonie untuk saling mencari dukungan dari sesamanya.”

“Menjelang pukul dua pagi rentetan letusan bak tembakan cepat artileri itu mencapai puncaknya. Rumah-rumah batu bergetar dan jendela-jendela bergemerincing. Gelas lampu penerangan jalan jatuh dan bertebaran di tanah, kaca etalase toko pecah, penerangan gas di banyak rumah padam. Sesudah itu ledakan-ledakan mereda, namun dari arah barat masih terdegar suara gemuruh.”

“Kemudian saya merasakan bahwa udara makin menjadi dingin. Dalam beberapa jam saja suhu udara telah menurun sedemikian rupa, sampai saya gemetar kedinginan di pos jaga. Belum pernah di Batavia udara sedingin itu. Waktu saya melihat keluar ternyata seluruh kota diliputi oleh kabut tebal. Penerangan jalan di seberang Lapangan Singa tak dapat saya lihat lagi,meskipun saya mendengar dari rekan lain bahwa lampu-lampu masih menyala. Tak lama kemudian ternyata kabut itu bukan kabut biasa, melainkan hujan abu, yang jatuh tak lama setelah lewat tengah malam - mula-mula jarang-jarang, tetapi makin lama makin deras, sehingga segalanya terselimuti oleh kabut abu yang tebal.”

“Pada pukul enam pagi, sesuai peraturan, semua lampu harus dipadamkan, tetapi matahari tidak terbit! Baru sekitar pukul tujuh nampaknya fajar seperti akan menyingsing, tetapi hari itu tak akan menjadi terang. Hawa makin menjadi dingin, sehingga saya memerintahkan anak buah saya untuk mengenakan jas hujan mereka. Sementara itu abu turun dengan tiada putus-putusnya. Abu itu ke mana-mana, bangsal jaga juga dilapisi oleh serbuk halus yang berwarna kelabu keputih-putihan. Prajurit jaga yang saya lihat dari jendela sedang mondar-mandir, nampak seperti boneka salju kelabu yang bergerak secara mekanis.”

“Sekitar pukul sembilan pagi ledakan-ledakan dan guruh makin bertambah. Pada pukul sepuluh hari gelap seperti malam. Lampu-lampu gas dinyalakan kembali. Lapisan abu setebal 15 mm menutupi segala yang ada. Jalan-jalan sunyi senyap, tak ada yang berani menampakkan diri. Saya merasa seorang diri di dunia, di dunia yang tak lama lagi bakal runtuh!”

“Pada pukul 10.40 akhirnya tiba telegram dari Serang, yang isinya memuat sedikit keterangan mengenai penyebab gejala-gejala alam yang mengerikan itu. Kawat itu berbunyi: ‘Kemarin petang Krakatau bekerja. Bisa didengarkan di sini. Semalam suntuk cahayanya terlihat jelas. Sejak pukul sebelas ledakan-ledakan makin hebat dan tak terputus-putus. Setelah hujan abu deras pagi ini matahari tak tampak, gelapnya seperti pukul setengah tujuh malam. Merak dimusnahkan gelombang pasang. Sekarang di sini sedang hujan kerikil. Tanpa payung kuat tak ada yang berani keluar.’”

“Lewat pukul duabelas, ketika di Batavia masih gelap gulita dan sangat dingin, tersiar berita kawat dari pelabuhan Pasar Ikan dan Tanjung Priok. Sebuah gelombang pasang telah membanjiri kota bagian bawah. Permukaan air dua meter di atas garis garis normal. Kapal uap Prinses Wilhelmina dicampakkan ke pangkalan, seperti juga kapal Tjiliwoeng yang cerobong asapnya merusak atap kantor pabean. Sejumlah kapal motor dan perahu terdampar acak-acakan di Pelabuhan Pasar Ikan, berlumuran lumpur dan abu tebal. Pengungsi mulai mengalir sepanjang jalan raya dengan membawa harta benda yang bisa dijinjing ke arah Weltevreden yang lebih tinggi letaknya. Pada pukul dua dan empat sore datang lagi gelombang pasang, tetapi kali ini kurang tinggi dibandingkan yang pertama.”

“Di sebelah barat kini menjadi tenang dan kelam makin berkurang, sehingga matahari mulai nampak sebagai bercak merah kotor pada langit yang kelabu.”

“Pada pukul lima petang saya diganti dan menerima perintah untuk segera menyiapkan suatu pasukan yang akan diberangkatkana ke daerah yang terkena musibah di Sumatra Selatan. Pada saat itu di Batavia tidak seorangpun tahu dengan tepat apa yang sebenarnya terjadi di sebelah barat. Semua hubungan telegram dengan daerah yang terlanda malapetaka terputus.”

Serang Sunyi Mencekam

Kalau di Jakarta, air pasang itu tak mengambil korban terlalu besar, tapi di daerah pantai sebelah barat Jawa Barat yang lebih dekat dengan gunung yang sedang murka itu, akibatnya sangat mengerikan. Di Tangerang, pantai utaranya digenangi sampai sejauh satu hingga satu setengah km dengan meminta korban manusia cukup besar. Sembilan buah desa pantai musnah. Korban di daerah ini tercatat 1.794 orang penduduk asli dan 546 Cina dan Timur Asing lainnya.

Di Serang suara gemuruh mulai terdengar pada pukul 3 siang, hari Minggu. Malamnya terus-menerus tercium bau belerang dan guruh serta kilat terlihat dari arah Krakatau. Hari Seninnya langit di sebelah barat berwarna kelabu, lalu hujan abu turun tanpa hentinya. Pukul setengah sebelas hari mulai kelam, dan makin menggelap, sehingga hampir tak terlihat apa-apa. Lewatpukul sebelas datang kawat dari Serang bahwa telah terjadi hujan kerikil batu apung; tak lama kemudian hubungan telegram dengan Jakarta terputus. Setelah hujan kerikil menyusul hujan lumpur, yakni abu basah yang melekat pada daun-daun dan dahan-dahan pohon sehingga kadang-kadang runtuh karena beratnya. Sekitar pukul 12 hujan lumpur ini berhenti, tetapi abu kering tetap turun.

Anehnya, selama itu di Serang tak terdengar letusan-letusan, bahkan suasana sangat sepi mencekam, yang membuat banyak orang makin gugup dan tertekan. Hewan peliharaan juga makin gelisah, mereka ingin sedekat mungkin dengan manusia di dalam rumah, di dekat lampu. Dengan kekerasan sekalipun hewan-hewan itu tak berhasil diusir. Setelah pukul dua siang langit mulai terlihat agak terang di sebelah timur, ayam-ayam jantan mulai berkokok. Suara gemuruh mulai terdengar lagi, sedang hujan abu turun terus-menerus dan bau abu belerang menusuk hidung. Pada pukul empat sore lampu-lampu masih dinyalakan.

Surat-surat kabar yang terbit di Batavia tertanggal 28, 31 Agustus, dan 4 September penuh dengan berita-berita tentang malapetaka yang menimpa daerah Banten. Tetapi jarang sekali ada kisah dari saksi mata, sebab tempat-tempat yang letaknya di tepi pantai seperti Merak, Anyer, dan Caringin, hancur luluh dan hanya ada beberapa orang Belanda yang melarikan diri dan tertolong pada saat yang tepat.

Ketika Siuman Semua Gelap

Di Merak seorang pemegang buku pada perusahaan pelabuhan bernama E. Pechler merupakan satu-satunya orang Belanda yang lolos. Ia sedang bertugas membawa telegram atasannya untuk dikirimkan ke Batavia lewat Serang. Berita ini mungkin yang terakhir dikirimkan dari Merak. Isinya laporan kepada Kepala Jawatan Pelabuhan di Betawi, yang menyebutkan bahwa pada hari Minggu tanggal 26 Agustus dan keesokan harinya, sebagian Merak yang lebih rendah letaknya, Pecinan, jalan kereta api, tergenangi; jembatan berlabuh dan teluk tempat pengambilan batu untuk pelabuhan rusak; jembatan dan derek-derek masih di tempat saat itu, tetapi gerbong-gerbong sudah masuk laut.

Sekitar pukul sembilan pagi Pechler berada di kaki sebuah bukit di luar Merak. Tiba-tiba ia ditimpa hujan lumpur dan badai. Ia melihat gelombang air mendekat, sehingga ia lari tunggang-langgang ke atas sebuah bukit, tapi sebelum ia mencapai puncaknya, ia sudah terkejar air pasang. Apa yang terjadi setelah itu ia tak tahu lagi…

Keesokan harinya ia baru siuman kembali. Tempat sekitarnya sudah kering, tetapi ia tak dapat mengenali sekelilingnya karena sangat gelap.

Pada hari Selasa ia baru bisa berjalan kembali ke Merak. Di tengah jalan ia melihat sebuah lokomotif yang rusak parah, sekitar 500 m dari tempat berhentinya. Di Merak ia tidak menemukan apa-apa lagi. Bahkan mayat pun tak dijumpainya� semuanya telah dihanyutkan ke laut. Di antara petugas pemerintah di Merak hanya Pechler dan seorang insinyur bernama Nieuwenhuis yang selamat, karena sedang berpergian ke Batavia. Waktu insinyur itu kembali ke Merak, rumahnya yang dibangun di atas bukit setinggi 14 m hanya tinggal lantainya saja.

Hujan Deras Batu Apung di Teluk Betung

Anyer dilanda gelombang pasang pada Senin pagi, tanggal 27, sekitar pukul sepuluh pagi. Gelombang ini menyapu bersih pemukiman di tepi pantai itu, sehingga yang tinggal hanyalah benteng, penjara, kediaman Patih dan Wedana. Dataran sekitar Anyer, yang di belakang tempat itu lebarnya kurang lebih 1 km seakan-akan dicukur gundul; di dekat pantai bongkahan-bongkahan karang dilemparkan ke darat.

Caringin yang berpenduduk padat juga hancur luluh; letaknya di dataran yang lebarnya sekitar 1.500 m, disusul oleh bukit-bukit 50m, tempat sejumlah kecil penduduknya menyelamatkan diri.

Bukan hanya di darat, tetapi di laut lepas Krakatau juga meneror kapal-kapal yang kebetulan berlayar di dekatnya. Penumpang kapal yang
melayari Selat Sunda pada hari naas itu tidak dapat melupakan pengalaman dan ketakutan mereka selama hidupnya.

Kapal api Gouverneur Generaal Loudon, dengan nakhoda Lindeman, sebuah kapal Nederland Indische Stoomvaartsmaatschappij (pendahulu KPM) berlayar dari Batavia ke Padang dan Aceh dengan menyinggahi Teluk Betung, Krui, dan Bengkulu. Kapal itu berangkat pada tanggal 26 Agustus pagi hari dari Jakarta. Seorang penumpang kapal itu mengisahkan pengalamannya sebagai berikut:

“Cuaca pagi itu sangat cerah. Siang harinya kami berlabuh di Anyer, sebuah pelabuhan kecil di pantai Banten. Beberapa orang pekerja kasar naik dari pelabuhan ini. Kapal kemudian melanjutkan pelayarannya ke arah Teluk Lampung, melewati Pulau Sangiang dan Tanjung Tua. Di sebelah kiri kapal kami lihat Pulau Rakata dari kejauhan, yang kami singgahi dua bulan yang lalu.”

“Waktu Gunung Krakatau mulai bekerja bulan Mei yang lalu, setelah dua abad beristirahat, perusahaan pemilik kapal Loudon mengadakan suatu tour pariwisata bagi penduduk Batavia. Dengan membayar dua puluh lima gulden kita bisa berlayar ke Pulau Krakatau. Pada waktu itu masih mungkin untuk mendarat ke pulau, bahkan mendaki kawahnya yang mengeluarkan uap putih.”

“Sekarang gunung berapi itu nampaknya jauh lebih gawat. Asap hitam pekat membubung dari kawahnya ke langit biru dan hujan abu halus turun di geladak kapal…”

“Pada pukul 7 petang kami berlabuh di Teluk Betung. Hari amat cepat menjadi gelap, sedang lautpun agaknya makin berombak dan hujan abu makin deras. Kapal Loudon memberi isyarat ke darat agar dikirimi sekoci bagi penumpang yang akan mendarat, tetapi tidak ada jawaban apa-apa. Lalu kapten memerintahkan agar sekoci kapal diturunkan, tetapi gelombang besar tak memungkinkan untuk mencapai darat, sehingga sekoci itu harus kembali lagi.”

“Lampu pelabuhan menyala seperti biasa, tetapi tampaknya ada kejadian-kejadian luar biasa di Teluk Betung. Sekali-sekali terlihat tanda
bahaya dari kapal-kapal lain dan terdengar suara kentongan bertalu-talu. Penerangan kota dipadamkan. Sementara itu hujan abu kini berubah menjadi hujan batu apung yang deras…”

Menara Suar Patah Seperti Batang Korek Api

“Dengan rasa kurang enak kami melewatkan malam itu. Air laut makin liar dan ombak-ombak besar mendera lambung kapal tanpa hentinya. Ketika fajar menyingsing kami melihat bahwa Teluk Betung menderita kerusakan cukup parah oleh gelombang pasang. Kapal api pemerintah Barouw, terlepas dari jangkarnya dan dihempaskan ke darat. Gudang-gudang dan gedung-gedung pelabuhan lain rusak. Tetapi tak tampak tanda-anda kehidupan di kota kecil itu…”

“Pukul tujuh pagi tiba-tiba kami melihat dinding air melaju ke arah kapal kami. Loudon sempat melakukan manouvre untuk menghindar, sehingga gelombang itu mengenai sejajar dengan sisi kapal. Kapal itu menukik hebat, tetapi pada saat bersamaan gelombang itu telah lewat dan Loudon selamat. Kami sempat melihat betapa air pasang itu mendekati, lalu melanda kota Teluk Betung dengan tenaga tak terbendung…”

“Tak lama kemudian masih ada tiga gelombang dahsyat yang menghambur, yang di hadapan mata kami memporak-porandakan segala apa yang ada di pantai. Kami melihat bagaimana menara suar patah seperti batang korek api dan rumah-rumah lenyap digilas gelombang. Kapal Barouw terangkat, kemudian dicampakkan ke darat melewati puncak-puncak pohon nyiur. Yang tadinya Teluk Betung kini hanya air belaka…”

“Di kota itu tentunya ada ribuan orang yang meninggal serentak dan kotanya sendiri seperti dihapuskan dari muka bumi. Semua itu terjadi dengan cepat dan mendadak, sehingga melintas sebelum kita sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Seakan-akan dengan satu gerakan maha kuat dekor latar belakang sebuah sandiwara telah digantikan…”

“Akhirnya Kapten Lindeman memutuskan untuk meninggalkan teluk itu, karena ia beranggapan bahwa keadaannya cukup berbahaya. Kapal menuju ke Anyer dengan tujuan untuk melaporkan malapetaka yang menimpa Teluk Betung. Tak lama kemudian kapal sudah berlayar di laut lepas. Walaupun hari masih pagi, cuaca makin menggelap, dan menjelang pukul sepuluh sudah gelap seperti malam. Kegelapan itu bertahan selama delapan belas jam dan selama itu turun hujan lumpur yang menutupi geladak sampai hampir setengah meter.”

“Di ruang kemudi nakhoda melihat bahwa kompas menunjukkan gerakan-gerakan yang paling aneh; di laut terjadi arus-arus kuat, yang selalu berubah arahnya. Udara dicemari oleh gas belerang pekat yang membuat orang sulit bernapas dan beberapa penumpang menderita telinga berdesing. Barometer menunjukkan tekanan udara yang sangat tinggi. Kemudian bertiuplah angin kuat yang berkembang menjadi badai. Kapal diombang-ambingkan oleh getaran laut dan gelombang tinggi. Ada saat-saatnya Loudon terancam akan terbalik oleh luapan air yang datang dari samping. Apa saja yang tak terikat kuat dilemparkan ke laut…”

Api Santo Elmo

“Tujuh kali berturut-turut halilintar menghantam tiang utama. Dengan rentetan letupan yang gemeretak, geledek itu kadang-kadang seperti
bergantungan di atas kapal yang diterangi cahaya mengerikan. Alat pemadam kebakaran disiapkan di geladak, sebab nakhoda khawatir setiap waktu Loudon bisa terbakar.”

“Kecuali halilintar, kami juga menyaksikan gejala alam aneh lain, yakni apa yang disebut sebagai api Santo Elmo. Di atas tiang kapal berkali-kali terlihat nyala api kecil-kecil berwarna biru. Kelasi-kelasi pribumi mendaki tiang untuk memadamkan ‘api’ itu, tetapi sebelum mereka sampai ke atas gejala itu telah lenyap kemudian terlihat berpindah ke tempat lain. Api biru yang berpindah-pindah itu sungguh merupakan pemandangan yang menyeramkan dan membangunkan bulu kuduk.”

“Antara badai dan ombak besar kami mengalami saat-saat tenang. Tiba-tiba saja semuanya menjadi sunyi senyap dan lautpun licin seperti kaca. Tetapi sepi yang tak wajar ini lebih mencekam daripada gegap gempita ombak dan topan yang harus kami alami. Tak terdengar suara lain, kecuali keluh kesah dan doa para penumpang Indonesia di geladak depan, yang yakin bahwa ajal
mereka segera akan sampai.”

“Akhirnya pada malam menjelang tanggal 28 kami melihat sekelumit cahaya membersit dilangit! Seberkas sinar bulan pucat berhasil menembus awan gelap. Ketika itu sekitar pukul empat pagi. Di kapal orang bersorak-sorai gembira dengan rasa syukur dan lega.”

“Memang masih ada batu apung dan abu turun ke geladak, tetapi paling tidak kami bisa melihat sekelilingnya dengan agak jelas. Kami masih berlayar menyusuri pantai Sumatra. Nampaknya pantai sangat sunyi. Yang dulunya ditumbuhi pohon-pohon kini hanya tersisa tunggul bekas batangnya yang patah. Laut penuh dengan kayu dan batu apung, yang di pelbagai tempat mengumpul menjadi semacam pulau besar yang menutupi jalan masuk ke Teluk Lampung.”

“Tampang kapal Loudon benar-benar mengejutkan. Ia lebih mirip kapal yang tenggelam sepuluh tahun di dasar laut dan baru diangkat kembali. Kami melayari Selat Sunda dan pagi-pagi sekali Krakatau nampak kembali. Sekarang kami baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seluruh pulau itu meledak sampai hancur lebur dan sebagian besar hilang. Dinding kawahnya sama sekali runtuh, kami hanya melihat celah-celah raksasa yang mengeluarkan asap dan uap.”

“Di laut, antara Pulau Sebesi dan Pulau Krakatau yang tadinya masih merupakan jalur pelayaran, kini bermunculan pulau-pulau vulkanik kecil dan berpuluh gosong arang timbul dari permukaan air. Pada delapan tempat tampak asap dikelilingi uap putih dari laut.”

“Dengan lambat kami mendekati pantai Jawa. Pemandangan yang terlihat hampir tak terperikan. Segalanya telah diratakan menjadi gurun tak bertuan. Waktu kami berlabuh di Teluk Anyer, kami baru menyadari bahwa pelabuhan kecil itu sudah tidak ada lagi. Semuanya telah tersapu bersih, tiada rumah, tiada semak, bahkan tak ada batu yang kelihatan! Hanya sebuah tonggak masih menandai bekas tempat berdirinya mercusuar. Selebihnya tidak ada apa-apa lagi, kehampaan dan kesepian…”

“Yang dulunya merupakan kampung-kampung yang makmur, kini hanya hamparan lumpur kelabu. Sungai penuh dengan puing dan lumpur. Di mana-mana tak nampak tanda-tanda kehidupan…”

“Pulau-pulau di Selat Sunda juga tak luput dari musibah. Pulau Sebesi yang pernah dihuni dua ribu orang, kini hanya tinggal seonggok bukit abu, sampai puncaknya yang hampir lima ratus meter tingginya itu, dan semua tumbuh-tumbuhan tak berbekas. Tak terlihat perahu atau desa lagi. Demikian pula keadaan pulau-pulau lain, Pulau Sebuku dan Pulau Sangiang.”

Hujan Lumpur

“Pada tanggal 29 Agustus kami kembali di Lautan Hindia. Makin ke utara, makin kurang kelihatan akibat malapetaka besar itu. Kemudian di Padang dan beberapa tempat lainnya kami bertemu dengan orang-orang yang mendengar ledakan-ledakan dan gemuruh Krakatau. Yang aneh ialah bahwa kami yang berada di tempat yang paling dekat dengan Krakatau, tidak mendengar dentuman-dentuman itu.”

Itulah kisah seorang penumpang kapal yang melihat malapetaka itu dari jarak jauh. Dari kota Teluk Betung sendiri ada saksi mata yang selamat. Menurut dia gelombang pasang yang pertama tiba tanggal 27 Agustus pagi sekitar pukul setengah tujuh, yang merebahkan lampu pelabuhan, gudang batu bara, gudang di dermaga, dan melemparkan kapal Barouw dari sisi timur bendungan melewati pemecah gelombang sampai ke Kampung Cina. Gudang Garam rusak dan Kampung Kangkung beserta beberapa kampung di pantai lainnya dihanyutkan. Kapal pengangkut garam Marie terguling di teluk, tetapi kemudian dapat tegak kembali. Orang juga melihat kapal Loudon berlabuh, kemudian berlayar lagi pada pukul tujuh.

Langit berwarna kuning kemerah-merahan seperti tembaga, dari arah Krakatau terlihat kilatan-kilatan api, hujan abu turun tiada hentinya, tetapi sekitar pukul delapan keadaannya tenang. Sementara orang-orang yang sempat mengungsi ke tempat yang tinggi waktu itu masih sempat kembali ke rumah masing-masing untuk menyelamatkan apa saja yang masih bisa diambil, atau
untuk melihat keadaan.

Kurang lebih pukul sepuluh tiba-tiba terdengar letusan hebat yang membuat orang terpaku. Suatu pancaran cahaya dan kilat terlihat di arah Krakatau. Segera setelah letusan itu hari mulai remang-remang. Kerikil batu apung mulai bertaburan. Menjelang pukul sebelas hari gelap seperti malam, hujan abu berubah menjadi hujan lumpur. Selanjutnya apa yang tepatnya berlangsung, tiada yang tahu, karena yang selamat berlindung di rumah residen dan hanya mendengar deru dan gemuruh sepanjang malam yang disebabkan oleh angin topan yang mematahkan ranting, menumbangkan kayu-kayuan, dan melemparkan lumpur pada kaca-kaca jendela. Para pelarian itu tidak sadar bahwa gelombang pasang sebenarnya sudah mendekati tempat pengungsiannya sejauh 50 m di kaki bukit.

Baru keesokan harinya orang mengetahui betapa besar kehancuran yang terjadi. Seluruh dataran diratakan dengan tanah, tiada rumah maupun pohon yang masih tegak. Yang ada hanya abu, lumpur, puing, kapal ringsek, dan mayat manusia maupun hewan bertebaran di mana-mana. Kapal Barouw sudah tak terlihat lagi. Baru kemudian kapal yang naas itu ditemukan di lembah Sungai Kuripan, di belakang belokan lembah pada jarak 3.300 m dari tempat berlabuhnya, dan 2.600 m dari Pecinan, tempatnya dicampakkan gelombang pertama pukul setengah tujuh itu. Sejumlah perahu kandas di tepi lembah, sebuah rambu laut ditemukan di lereng bukit pekuburan. Awak kapal Barouw,
mualim pertama Amt dan juru mesin Stolk hilang tak ketahuan rimbanya.

Bagian pantai Sumatra yang terjilat malapetaka Krakatau paling parah, terutama adalah yang letaknya berhadapan dengan Selat Sunda. Misalnya tempat-tempat di tepi Teluk Semangka.

Terjepit Dua Rumah

Seorang Belanda yang mengalami pribadi kedahsyatan letusan Krakatau dan berhasil mempertahankan hidupnya adalah seorang controleur yang ditempatkan di Beneawang, ibukota afdeling Semangka, yang letaknya di Teluk Semangka, Lampung. PLC. Le Sueur, pejabat Belanda itu, melaporkan kepada atasannya dalam sepucuk surat tertanggal 31 Agustus 1883 sebagai berikut:

“Pada hari Minggu sore, menjelang pukul empat, sewaktu saya sedang membaca di serambi belakang rumah saya, tiba-tiba saja terdengar beberapa dentuman yang menyerupai letusan meriam. Saya mengira bahwa residen yang menurut rencana akan tiba besok dengan kapal bersenjata pemerintah telah mempercepat jadwal kunjungannya. Saya segera mengumpulkan para kepala adat dan pejabat setempat ke pantai. Tetapi kami tidak melihat ada kapal di laut. Saya segera kembali ke rumah.”

“Baru saja saya sampai di rumah, seorang pesuruh melaporkan bahwa air laut mulai naik dan beberapa kampung di pantai sudah tergenang. Saya segera berangkat lagi untuk menertibkan keadaan di antara rakyat yang mulai panik dan memanggil-manggil nama Allah. Saya menyuruh mereka membawa wanita dan anak-anak ke tempat-tempat yang letaknya lebih tinggi. Kemudian air surut
lagi dengan cepat, tetapi mulai hujan abu.”

“Sekitar pukul empat pagi saya dibangunkan oleh orang-orang yang memberitakan bahwa di kaki langit terlihat cahaya kemerah-merahan. Saya merasa khawatir…”

“Pukul enam pagi, hari Senin, saya pergi ke pantai. Permukaan air laut jauh lebih rendah dari biasanya. Sementara batu karang yang biasanya tak nampak, kini menjadi kering. Selanjutnya saya mendengar guruh sambung-menyambung, sehingga saya khawatir masih ada hal-hal yang lebih mengerikan yang akan menimpa kami…”

“Setiba di rumah saya menyuruh memanggil Van Zuylen (pembantu saya) untuk menulis rancangan surat kepada residen tentang apa yang terjadi. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, tetapi cuaca begitu gelap sehingga lampu-lampu masih menyala. Sejurus kemudian kata Van Zuylen: ‘Maaf tuan, untuk sementara saya berhenti menulis saja. Saya merasa gelisah.’”

“Baru saja ia mengatakan itu, tiba-tiba kami mendengar ribut-ribut. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak berlarian sambil berteriak: ‘Banjir!
Banjir!’. Van Zuylen dan saya segera keluar dan menawari orang-orang itu agar berlindung di rumah saya saja, karena rumah saya terletak di tempat yang agak tinggi dan dibangun di atas tiang. Tetapi tak lama kemudian air pasang kembali ke laut sehingga semuanya tenang kembali…”

“Ketenangan itu tak berlangsung lama: Sejurus kemudian air laut kembali lagi dengan debur dan gemuruh yang menakutkan. Di rumah saya saat itu sudah ada sekitar tiga ratus orang pengungsi. Saya mondar-mandir di antara mereka untuk agak menenangkan mereka. Tiba-tiba saya mendengar serambi depan runtuh dan air segera menerjang ke dalam rumah. Saya menganjurkan mereka untuk pindah ke serambi belakang. Baru saja saya mengatakan itu, tiba-tiba seluruh rumah roboh berantakan dan kami semuanya terseret oleh arus air.”

“Setelah itu saya tak tahu lagi apa yang terjadi. Saya berhasil meraih sekerat papan dan mengapung mengikuti aliran air, sampai kaki saya
tersangkut sesuatu sehingga papan itu harus saya lepaskan. Setelah itu saya berhasil menggapai beberapa keping atap. Saya berpegangan erat-erat sampai air kembali ke laut dan kaki saya menginjak tanah. Saya menggunakan jas saya untuk melindungi kepala dari hujan lumpur.”

“Di kejauhan saya mendengar suara minta tolong dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak, tetapi saya tak berdaya menolong. Saya tak bisa berdiri karena lemas, takut, dan terkejut, lagi pula tak terlihat apa-apa sebab gelap. Saya mendengar air datang lagi dengan kuatnya. Saya hanya bisa berdoa sejenak memohon penyelamatan nyawa kami semua sambil menyiapkan diri untuk menghadapi maut. Lalu saya dihanyutkan oleh air, diputarkan, lalu dicampakkan dengan kekuatan dahsyat. Saya terjepit di antara dua rumah yang mengapung. Saya tak bisa bernapas lagi rasanya. Saya mengira bahwa ajal saya sudah sampai. Tetapi tiba-tiba kedua rumah itu terpisah lagi. Kemudian
Saya mendapat batang pisang yang tak saya lepaskan lagi…”

“Dengan batang pisang itu saya mengapung beberapa lama, berapa lama tepatnya saya tak tahu lagi. Waktu air surut, saya terduduk saja,
barangkali sejam lamanya saya di situ tanpa bergerak. Di sekitar saya masih gelap gulita dan hujan lumpur berlangsung terus.”

Kontrolir Berteriak Minta Tolong

“Akhirnya Saya mendengar suara-suara manusia di dekat tempat itu. Saya memanggil, bangkit, lalu mulai berjalan tertatih-tatih dengan mata tertutup lumpur sambil meraba-raba jalan saya. Semua pakaian saya, kecuali baju kain flanel, telah tercabikkan dari badan saya. Saya berjalan dalam keadaan kedinginan di bawah hujan lumpur, tetapi tidak berhasil menemukan orang-orang yang saya dengar suaranya itu.”

“Saya menginjak semak-semak berduri dan kulit saya tercabik oleh duri rotan, sedang saya lebih banyak jatuh bangun daripada berjalan. Akhirnya saya mendengar ada orang berkata dalam bahasa Lampung: ‘Kita tak jauh dari sungai besar.’ Saya mempercepat jalan saya sedapatnya, menyapu lumpur dari mata saya lalu bergegas menuju ke arah suara tadi. Saya bertemu seorang Jawa, seorang Palembang, dan beberapa wanita Jawa.”

“Tak lama kemudian kami melihat cahaya obor dari jauh. Tanpa berhenti saya berteriak: ‘Tolong! Tolong! Saya kontrolir!’ Tetapi agaknya pembawa obor itu tak mendengar suara saya. Beberapa kali kami melihat cahaya itu, tapi kemudian menghilang di dalam kegelapan. Ketika itu semestinya sudah pukul delapan atau sembilan pagi, tetapi masih gelap gulita…”

“Akhirnya ada juga seorang pembawa obor yang datang mendapatkan kami. Saya katakan kepadanya siapa saya, lalu ia mengantarkan saya melewati hutan semak berduri dan mengarungi lumpur ke Kampung Kasugihan, kemudian diteruskan ke Penanggungan. Hari sudah pukul delapan malam waktu kami tiba di sana. Di kampung ini saya baru beristirahat sejam ketika kami mendengar gemuruh air, sehingga tempat ini juga masih belum aman. Kami melarikan diri lagi ke arah pegunungan. Setelah dua jam berjalan kami mencapai desa Payung yang terletak di lereng Gunung Tanggamus. Di tempat ini ada yang memberi saya sehelai sarung, sehingga saya berpakaian agak pantas.”

“Mujur bahwa saya mendapat sambutan baik dari kepala desa maupun rakyatnya, sehingga setiap hari saya bisa makan nasi dengan lauk ayam. Pada hari Selasa saya menyuruh orang untuk menyelidiki siapa-siapa yang masih hidup dari tempat-tempat di pantai. Hasilnya amat menyedihkan. Hampir seluruh Beneawang musnah. Saya perkirakan korban jiwa di daerah ini ada sekitar seribu orang. Banyak kampung lenyap. Di banyak desa terjadi kelaparan.”

“Mohon dikirim beberapa potong pakaian, sebab saya tak mempunyai apa-apa lagi, juga sepatu dan selop.”

Hujan Batu Apung Membara dan Abu Panas

Menurut laporan resmi, di Beneawang sekitar 250 orang meninggal, termasuk hampir semua pemuka adat daerah itu yang berkumpul untuk menyambut kedatangan Residen. Termasuk Van Zulyen, klerk griffier pembantu Le Sueur, satu-satunya orang Belanda yang tewas. Kampung-kampung di sebelah barat dan timur Teluk Semangka mengalami penghancuran total atau sebagian; di Tanjungan dan di Tanjung Beringin yang terletak di dekatnya, 327 orang dinyatakan hilang, di Betung yang berdekatan, 244 orang.

Dari Ketimbang di pantai Teluk Lampung kita ikuti kisah kontrolir Beyerink yang lebih mengenaskan, karena ia pribadi kehilangan seorang anggota keluarganya dalam malapetaka itu.

“Pada Minggu sore, tanggal 26 Agustus itu distrik kami ditimpa hujan abu dan batu apung yang membara. Rakyat melarikan diri dalam suasana panik. Abu yang jatuh itu begitu panasnya, sehingga hampir semua orang menderita luka bakar pada muka, tangan, dan kaki. Di antara penduduk yang berjumlah kurang lebih tiga ribu orang yang mengungsi bersama saya ke daerah yang lebih tinggi, paling sedikit ada seribu orang yang meninggal karena luka bakar. Seorang di antara anak saya juga ikut meninggal. Kami terpaksa memakamkannya dalam abu.”

Antar pukul sembilan dan sepuluh malam air mulai menggenangi rumah kontrolir. Ini merupakan dorongan kuat bagi Beyerink untuk mengajak keluarganya yang terdiri atas istrinya dan kedua anaknya yang masih kecil memgungsi ke Kampung Umbul Balak di lereng Gunung Rajabasa. Semalam-malaman turun hujan kerikil dan abu, hari Minggunya sampai pukul sebelas hujan deras, paginya antara pukul sembilan dan sepuluh jatuh kepingan-kepingan batu apung, ada yang sebesar kepala. Ledakan-ledakan sudah terdengar terus-menerus sejak hari Minggu dan sejak hari Senin tercium bau belerang.
Gelegar letusan terhebat terdengar sekitar pukul sepuluh, disusul segera oleh kegelapan total. Tak lama kemudian mulai turun abu panas, yang rasanya sangat nyeri saat mengenai kulit. Ini berlangsung kira-kira seperempat jam, mungkin lebih lama, disertai uap belerang yang menyesakkan napas.

Sesudah itu turun hujan lumpur, yang melekat pada tubuh seperti lem, tetapi lebih mending daripada abu panas yang mengakibatkan luka-luka bakar. Lumpur dan abu silih berganti berjatuhan semalam suntuk, mungkin juga sampai Selasa pagi.

Selama lima hari Beyerink dengan keluarganya menderita di bawah tempat berteduh yang sederhana, dikelilingi sejumlah besar rakyat yang ikut melarikan diri ke tempat itu. Mereka semuanya sangat menderita, terutama oleh luka-luka bakar yang tak diobati. Anak terkecil keluarga Beyerink akhirnya meninggal karena luka-lukanya dan keadaan yang menyedihkan itu.

Akhirnya mereka dibebaskan oleh kapal bargas Kedirie yang pada Sabtu pagi, tanggal 31 Agustus membuang sauh di Teluk Kalianda. Nakhoda kapal beserta beberapa anak buahnya melakukan peninjauan ke darat. Mereka mendengar bahwa kontrolir dan keluarganya mengungsi di Umbul Balak. Mereka bergegas menjemputnya. Dengan bantuan tandu keluarga yang malang itu akhirnya dapat dibawa ke pantai dan hari itu juga Kedirie bertolak ke Jakarta.

Tersangkut Di Pohon

Kapal bargas Kedirie menyelamatkan sejumlah korban, di antaranya seorang kakek yang berumur sekitar enam puluh tahun, bernama Kimas Gemilang, yang kemudian dirawat di rumah sakit umum di Jakarta. Dalam sebuah wawancara dengan harian berbahasa Belanda ia mengisahkan pengalamannya sebagai berikut:

“Pada hari Senin pagi, sekitar pukul enam, saya menuju ke pantai, tak jauh dari rumah saya di Ketimbang. Saya melihat permukaan air laut sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada sehari-hari, tetapi saya tidak melihat gelombang atau hal lain yang mencurigakan. Sekitar sepuluh menit kemudian, saya melihat air menggulung dari kejauhan, warnanya hitam dan tingginya menyerupai gunung. Saya hendak melarikan diri, tetapi sudah tak keburu sebab air telah mencapai saya, sehingga saya terseret.

Mujurnya, saya tersangkut pada batang pohon besar. Saya memanjat pohon itu sampai ke puncaknya. Tak lama sesudah itu air menghilang sama cepatnya seperti tibanya tadi. Setelah lewat lima menit gelombang pasang itu datang kembali. Saya tetap bertengger di pohon, tak berani turun. Sesudah lewat sekitar satu jam air pasang tak kembali lagi, barulah saya perlahan-lahan merosot ke bawah. Tetapi saya tak mampu berjalan karena cedera akibat hempasan gelombang tadi. Jadi saya duduk dan rebah di bawah pohon penyelamat itu beberapa hari dan beberapa malam dalam keadaan antara sadar dan tidak, seperti terbius, tanpa mengetahui apa yang terjadi di sekeliling saya.

Tentu saja selama beberapa hari itu saya tidak makan dan minum sampai suatu pagi, saya sudah tak tahu lagi hari apa, ada seorang Cina menghampiri saya, lalu mengangkat saya ke perahunya. Di tengah laut kami ditolong oleh sebuah kapal api yang membawa saya kemari.”

Demikianlah kisah beberapa saksi mata yang mengalami secara pribadi malapetaka Krakatau itu. Para pengamat waktu itu setelah mengumpulkan data yang diperoleh, menyimpulkan bahwa letusan Krakatau bulan Agustus 1883 itu tidak disertai atau didahului oleh gempa kuat. Di beberapa tempat memang terasa guncangan ringan.

Bulan dan Matahari Berwarna-Warni

Yang meminta korban jiwa maupun kerusakan paling berat adalah air pasang yang melanda pantai-pantai yang berbatasan dengan Selat Sunda dan utara Pulau Jawa. Hanya sebagian kecil korban diakibatkan oleh abu panas, sedang awan panas dan gas beracun tak tercatat. Dari laporan-laporan ternyata bahwa gelombang pasang itu terjadi tiga kali, yang pertama pada hari Minggu pukul 18.000, pada hari Senin sekitar pukul 06.30, dan pukul 10.30. Gelombang yang terakhir adalah yang terbesar, yang menyebabkan kerusakan paling banyak. Penghancuran Teluk Betung dan Caringin terutama diakibatkan oleh gelombang yang terakhir itu.

Setelah aktif selama 121 hari sejak bulan Mei dan puncak ledakan tanggal 28 Agustus itu akhirnya semuanya menjadi tenang kembali. Krakatau lenyap seperti ditelan bumi; hampir seluruh belahan utara pulau itu hilang. Yang tinggal hanya bebatuan sepanjang 813 meter. Gunung berapi Danan dan Perbuatan juga gaib, dan di tempat itu terbentuk kaldera raksasa yang berdiameter 7,4 km.

Abu halus yang dilontarkan ke angkasa ditiup ke arah barat oleh angin dan keliling dunia dengan kecepatan 121 km tiap jamnya. Setelah enam minggu, dalam bulan Oktober 1883 suatu sabuk debu dan abu halus menyebar sekitar bumi. Hanya dua hari setelah letusan abu halus itu sudah meliputi benua Afrika dan lima belas hari kemudian telah mengitari bumi, mengkibatkan suatu kabut di seluruh daerah khatulistiwa yang menyebar sedikit demi sedikit. Pada tanggal 30 Nopember kabut itu mencapai Eslandia. Kabut itu menyebabkan pelbagai dampak optik, termasuk senja kala yang gilang-gemilang, matahari dan bulan berwarna, dan munculnya corona. Di banyak tempat di dunia terlihat matahari atau bulan berwarna merah jambu, hijau, biru. Enam bulan setelah letusan Krakatau, penduduk Missouri di Amerika Serikat melihat matahari kuning dengan latar belakang langit hijau.

Sebuah majalah populer Belanda memberi judul karangan tentang letusan Krakatau “Lebih hebat dari bom atom.” Ledakan bom atom bukan apa-apa dibandingkan dengan letusan Krakatau. Bom atom pertama yang diledakkan sebagai percobaan di dekat Los Alamos pada tanggal 16 Juni 1945 memancarkan energi sebesar 0,019 Megaton, sedangkan ledakan Krakatau diperkirakan sebesar 410 megaton!

Kekuatan letusan itu setara dengan 21.428 bom atom. Sedangkan korban jiwa yang direnggutnya oleh gelombang pasang merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat sampai hari ini. Ini belum terhitung korban tidak langsung yang meninggal oleh penyakit dan kelaparan yang terjadi kemudian.***